Total Tayangan Halaman

Senin, 08 Agustus 2011

Raja Habasyah "Ashamah bin Abjar An Najasyi"

Oleh – oleh dari kajian Kamis sore di Masjid Jogokaryan,
Sudah beberapa pekan ini saya mulai aktif dikajian Kamis sore oleh Ustadz Salim A Fillah “Kajian Jejak Nabi”, awalnya hanya saran dari teman dan liat poster di kampus... Alhamdulillah, Alloh lunakkan hati ini kepada kebaikan… Nah pekan ketiga ikut kajian dapat cerita menarik tentang Raja Habasyah, sayangnya hanya sepenggal dan “njujuk” intinya tetapi karena sudah jadi sifat penasaran akhirnya tanya mbah Google ternyata memang menajubkan cerita ini. Disamping hikmah yang banyak, Alhamdulillah modal ngisi kajian juga :D… Daripada mbaca koar – koaranku yang ga jelas, tanpa panjang lebar akan saya ceritrakan kisah Raja yang Agung ini.

Dialah Ashamah bin Abjar yang dikenal dengan sebutan An-Najasyi. Marilah pada kesempatan yang barakah ini sejenak kita telusuri kehidupan seorang tokoh besar kaum muslimin ini.
Beliau bisa dikatakan tabi’in, namun boleh pula dikatakan sebagai sahabat. Hubungannya dengan Rasulullah saw. berlangsung melalui surat menyurat. Ketika beliau wafat, Nabi saw. melakukan shalat ghaib untuknya, shalat yang belum pernah beliau lakukan sebelumnya.

Ayah Ashamah adalah raja negeri Habasyah dan tidak memiliki anak melainkan beliau. Kondisi ini dipandang kurang baik untuk masa depan negeri itu. Sebagian tokoh Habasyah berbisik, “Raja kita hanya memiliki seorang putra. Dia hanya menyusahkan. Dia akan mewarisi tahta bila raja wafat dan mengantar kita ke arah kebinasaan. Lebih baik kita bunuh sang raja dan kita angkat saudaranya menjadi raja baru. Dia memiliki dua belas putra yang membelanya masa hidup dan menjadi pewarisnya jika meninggal.”

Dengan gencar setan membisiki dan memprovokasi mereka hingga mereka membunuh rajahnya dan mengangkat saudaranya untuk menggantikannya.

Kini Ashamah diasuh oleh pamannya. Tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, penuh semangat, ahli berargumen dan berkepribadian luhur. Ia menjadi andalan pamannya dan diutamakan lebih daripada anak-anaknya sendiri.

Namun setan kembali memprovokasi para pembesar Habsyah. Mereka kembali berembuk. Di antara mereka berkata, “Kita khawatirkan bila kerajaan ini jatuh ke tangan pemuda itu, pastilah dia akan membalas dendam atas kematian ayahandanya dahulu.”

Akhirnya mereka menghadap raja dan berkata, “Tuanku, kami tidak bisa merasa tentram dan aman bila Tuan belum membunuh Ashamah atau menyingkirkannya dari sini. Dia telah beranjak dewasa dan kami khawatir dia akan balas dendam.”

Mendengar permintaan tersebut raja sangat murka dan berkata, “Sejahat-jahat kaum adalah kalian! Dahulu kalian membunuh ayahnya dan sekarang kalian memintaku untuk membunuhnya pula. Demi Allah, aku tak akan melakukannya.”

Mereka berkata, “Kalau begitu kami akan mengasingkannya dari negeri ini.” Sang raja tak berdaya menghadapi tekanan dan paksaan para pejabat yang jahat itu.

Tak lama setelah diusirnya Ashamah tiba-tiba terjadi peristiwa yang diluar dugaan. Badai mengamuk disertai guntur dan hujan lebat. Sebatang pilar istana roboh menimpa sang raja yang sedang berduka akibat kepergian keponakannya. Beberapa waktu kemudian dia wafat.

Rakyat Habasyah berunding untuk memilih raja baru. Mereka mengharapkan salah satu dari dua belas putra raja, namun ternyata tak ada seorang pun dari mereka yang layak menduduki tahta. Mereka menjadi cemas dan gelisah, lebih-lebih setelah mendapati bahwa negeri-negeri tetangga telah menunggu kesempatan untuk menyerang.  Kemudian ada salah seorang di antara mereka berkata, “Demi Allah, tak ada yang patut menjadi pemimpin kalian kecuali pemuda yang kalian usir itu, jika kalian memang peduli dengan negeri Habasyah, maka carilah dia dan pulangkanlah dia.”

Mereka pun bergegas mencari Ashamah dan membawanya pulang ke negerinya. Lalu mereka meletakkan mahkota di atas kepalanya dan membai’atnya sebaga raja. Mereka memanggilnya dengan Najasyi. Dia memimpin negeri secara baik dan adil. Kini Habasyah diliputi kebaikan dan keadilan setelah sebelumnya didominasi oleh kezhaliman dan kejahatan.

Saat  bersamaan dengan naiknya Najasyi menduduki tahta di Habasyah, di tempat lain Allah mengutus Nabi-Nya, Muhammad saw. untuk membawa agama yang penuh hidayah dan kebenaran, satu persatu assabiqunal awwalun memeluk agama ini.

Orang-orang quraisy mulai mengganggu dan menganiaya mereka. Ketika Makkah sudah merasa sesak bagi kaum muslimin karena gencarnya tekanan-tekanan musyrikin quraisy, Rasulullah saw. bersabda, “Di negeri Habasyah bertahta seorang raja yang tidak suka berlaku zhalim terhadap sesama. Pergilah kalian ke sana dan berlindunglah di dalam istananya sampai Allah membukakan jalan keluar dan membebaskan kalian dari kesulitan ini.”

Maka berangkatlah rombongan muhajirin pertama dalam Islam  yang berjumlah sekitar 80 orang ke Habasyah. Di negeri baru itu, mereka mendapatkan ketenangan dan rasa aman, bebas menikmati manisnya takwa dan ibadah tanpa gangguan.

Akan tetapi pihak quraisy tidak tinggal diam setelah mengetahui bahwa kaum muslimin bisa hidup tenang di Habasyah. Mereka segera berunding menyusun makar untuk menghabisi kaum muhajirin atau menarik mereka kembali ke Makkah.

Mereka mengirimkan dua orang utusannya kepada Najasyi di Habasyah. Keduanya orang pilihan dan pandai berdiplomasi, yaitu Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Mereka berangkat dengan membawa hadiah-hadiah dalam jumlah besar untuk Najasyi dan para pejabat tinggi Habasyah yang dikenal menyukai barang-barang dari Makkah.

Sesampainya di Habasyah, keduanya terlebih dahulu menjumpai para pejabat sambil menyuap mereka dengan hadiah yang dibawa. Keduanya berkata, “Di negeri Anda telah tinggal sejumlah pengacau dari kota kami. Mereka keluar dari agama nenek moyang dan memecah belah pesatuan kami. Maka nanti jika  kami menghadap Najasyi dan membicarakan masalah ini, kami mohon Anda semua mendukung kata-kata kami untuk menentang agama mereka tanpa bertanya. Kami adalah kaum mereka. Kami lebih mengenal siapakah mereka dan mengharapkan agar kalian sudi menyerahkan mereka kepada kami.”

Setelah memilih saat yang tepat, Amru bin Ash dan Abdullah bin Rabi’ah menghadap Najasyi. Mereka terlebih dahulu sujud menyembah seperti yang biasa dilakukan orang-orang Habasyi. Najasyi menyambut keduanya dengan baik karena sebelumnya telah kenal dengan Amru bin Ash. Kemudian tokoh quraisy itu memberikan hadiah-hadiah yang indah disertai titipan salam dari para pemuka quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan sebelum beriman.

Raja Najasyi menghargai hadiah-hadiah pemberian mereka. Kemudian Amru mulai bicara, “Tuan, telah tiba di negeri Anda beberapa orang pengacau dari kaum kami. Mereka telah keluar dari agama kami dan tidak pula menganut agama Anda. Mereka mengikuti agama baru yang kami tidak mengenalnya begitu pula Anda. Kami berdua diutus oleh pemimpin kaum  kami untuk meminta agar Tuanku mengembalikan mereka kepada kaumnya. Karena kaumnyalah yang lebih tahu apa yang diakibatkan oleh agama baru itu, berupa fitnah dan kekacauan yang mereka timbulkan.

Najasyi menoleh kepada para penasihat istana dan meminta pendapat mereka. Mereka berakta, “Benar tuanku, kita tidak tahu tentang agama baru itu dan tentunya kaum mereka lebih paham akan hal itu daripada kita.” Najasyi berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka kepada siapapun sebelum mendengarkan keterangan mereka sendiri dan mencari tahu tentang kepercayaan mereka. Bila mereka dalam kejahatan, maka aku tidak keberatan menyerahkan mereka kepada kalian. Tetapi kalau mereka dalam kebenaran, maka aku akan melindungi dan memilihara mereka selama mereka ingin tinggal di negeri ini. Demi Allah, aku tidak akan melupakan karunia Allah kepada diriku yang telah mengembalikan aku ke negeri ini karena ulah orang-orang keji.”

Kaum muslimin yang hijrah itu pun dipanggil Najasyi ke istana. Mereka menjadi bertanya-tanya, lalu saling bertukar pikiran sebelum berangkat. Di antara mereka ada yang berkata, “Apa jawaban kita jika ditanya tentang agama kita?”

Yang lain menjawab, “Kita katakan saja apa yang difirmankan Allah dalam kitab-Nya dan kita jelaskan apa-apa yang diajarkan Rasulullah saw. dan Rabb-nya.”

Berangkatlah mereka menuju istana, di sana mereka melihat Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah, sementara uskup-uskup Najasyi duduk berkeliling dengan pakaian kebesaran mereka dengan kitab-kitab yang terbuka di tangan. Kaum muslimin duduk di tempat yang telah disediakan setelah memberi salam secara Islam.

Amru bin Ash menoleh kepada mereka dan bertanya, “Mengapa kalian tidak sujud kepada raja?” mereka pun menjawab, “Kami tidak sujud kecuali kepada Allah Ta’ala.”

Najasyi menggeleng-gelengkan kepala karena kagum dengan jawaban itu. Dia memperhatikan mereka dengan pandangan simpati, lalu berkata, “Apa sebenarnya agama yang kalian anut? Kalian meninggalkan agama nenek moyang kalian dan tidak pula mengikuti agama ka
mi.


To Be Continued.....

Rabu, 08 Juni 2011

PDF to Word

BismillahGratis – gratis dan gratis, mau tau apa yang gratis?


Nie dia software gratis untuk convert dari PDF to Word, beberapa pekan yang lalu saya pernah share ke facebook tentang software convert dari PDF to Word tapi sharing pertama saya tentang software itu gatot…. Maksud hati mau “nulung temen” tapi softwarenya ga bagus dan akhirnya banyak komplain walopun juga ga mbayar juga, dasar hansiippppp…. Eh nasiiibbb… tapi setelah tanya mbah google eeeeeeeee…. Ternyata ada software gratisan lagi dan ternyata hasilnya lebih sempurna dari software yang saya sarankan ke temen beberapa pekan yang lalu. Kalo mw liat capturenya nie :

 

Pemakaiannya juga gampang, gampang banget…. Liat dari menu ribbonnya aja langsung tau… asal ga gaptek aja… hehehehe…. Mw softwarenya? Silahkan download disini PDFtoWord 
uupppssssss ane salah gan... ternyata butuh registry juga tapi emang gratis kalo bisa njawab pertanyaan dari penyedia software... contoh pertanyaan ada disini maapin ya gan hehehe

Selasa, 07 Juni 2011

"CYBERCRIME"


Tugas Presentasi Mata Kuliah Etika Profesi
Cybercrime

Bismillah... Kali ini saya pemilik blog ingin berbagi sama temen – temen tentang materi presentasi kelompok 7. Nah kali ini tema presentasi kami adalah tentang “Cybercrime”. Kasus yang hendak kami angkat yaitu Pembajakan Akun Facebook Walikota Jogjakarta yaitu Herry Zudianto. Ga cma itu bro... banyak lagi dalemnya uapik lah pokoknya..... Untuk lebih lengkapnya bisa diunduh dari file berikut ini
Demikian saya postingkan tugas dari matakuliah Etika Profesi ini semoga dapat bermanfaat untuk kita semua. Matur Tengkyu..... 

Senin, 18 April 2011

Gadget For Windows XP

Mas Bro pengguna windows XP, mungkin ingin menambahkan salah satu fitur dari Windows 7. Nah salah satu fitur yang bisa mas bro tambahkan ke layar komputer (desktop) adalah sidebar gadget, so pasti ga kalah cantik Arsiteknya sama saudara mudanya Windows 7.

Mas Bro bisa menghias layar desktop dengan memasang sidebar Windows 7, kemudian mengisinya dengan gadget yang telah tersedia di panel gadget sidebar tersebut. Aplikasi ini berjalan dengan normal di Windows XP tapi kalo mau labih cantik lagi Mas Bro Bisa Donlot Vista Mizer ... pasti lebih cantik.... tapi masih kalah cantik sama AdindaQ.... ckckckck ra nyambung....


Menambah gadget sidebar Windows 7 ke windows XP
Dan Aplikasi ini tidak terlalu menguras resource komputer jika dibandingkan dengan menginstal themes vista inspirate. Untuk mengatur gadget yang akan ditambahkan ke sidebar, cukup dengan menekan tombol plus (+) di sebelah kanan atas sidebar. beberapa gadget yang bisa anda tambahkan adalah jam analog, jam digital, kalender, folder, dan beberapa gadget lainnya.


Menambah gadget sidebar Windows 7 ke windows XP
Tertarik? ingin menginstal aplikasi ini? (Thoosje's Windows 7 sidebar 1.0), bisa download di situs resminya. Ukuran filenya sekitar 8,26 MB. GRATIS... nah looo....

Mantafkan? .... Buruan Coba... Wokey Mas Bro....!!!!! ^ ^




Silahkan klik disini untuk mendownload Windows 7 sidebar 1.0


Sumber :

 - http://www.yousaytoo.com/menambah-gadget-sidebar-windows-7-ke-windowsxp/86644

Senin, 11 April 2011

Kelanjutan Sinopsis "Sandiwara Langit" part 3

...... Sebelum baca kelanjutan sinopsisnya marilah kita sedih dulu.... karena bahasan kita mulai di babak - babak sedih kehidupan Cinta anak manusia... ckckckck.... lebay.com ^ ^ ..... beneran.... dalam bab ini akan ada nukilan - nukilan dari buku "Sandiwara Langit" so pasti kalo belum punya bukunya pasti tambah gregeten.... hehehehe..... 

Badai Susulan
Baru beberapa dua hari berselang dari musibah kebakaran tersebut, musibah lain datang menyapa. Hari itu adalah hari final dari perjanjian yang diucapkan Rizqaan saat akad nikah sepuluh tahun yang lalu. Sang mertua (Bapak Halimah) dengan kejamnya menagih janji dari Rizqaan dan menyatakan bahwa Rizqaan tidak dapat memenuhi janjinya, karena saat ini Rizqaan telah menjadi seorang yang bangkrut. Akhirnya dalam pergulatan batin yang hebat sebagai seorang muslim dan muslimah yang menaati Allah dan Rasulnya. Mau tak mau mereka harus menepati janji mereka.
“Halimah istriku……..” ujar Rizqaan, dengan napas tercekat.
“Ya, abuya. Kakanda. Suamiku.” Balas Halimah, tak kalah pedihnya.
“Dihadapan Allah. Atas Dasar ketaatan kita kepada-Nya. 

Dengan harapan Allah akan memperjumpakan kita di Surga kelak dalam sejuta keindahan yang melebihi segala yang pernah kita rasakan berdua. Atas dasar cinta kasih kita yang suci. Atas dasar kepedihan hati yang mendalam, yang hanya Allah yang mengatahuinya:  
SAYA MENALAQMU ADINDA.”

Meski tabah, tapi mau tidak mau tangisan Halimah meledak, tak terbendung lagi. Ia menagis terisak-isak. Ia tak pernah membayangkan, bahwa kesetiaannya kepada suami akan berujung pada kepedihan seperti ini. Ya Allah Ya Rabbi. Kami yakin, berkah sesungguhnya adalah pada cinta-Mu kepada kami. Kami merindukan cinta-Mu. Hati Rizqaan dan Halimah berbisik lirih.

Lembaran-lembaran baru kehidupan Rizqaan, Halimah dan Nabhaan anak mereka
Pada bab-bab selanjutnya dikisahkan bagaimana Rizqaan merintis kembali usahanya yang telah hancur dengan sekuat tenaga dan ketabahannya menghadapi cobaan. Juga dikisahkan bagaimana kehidupan Halimah selanjutnya selepas menyandang predikat sebagai seorang janda yang sangat tidak dia harapkan. Tak lupa bagaimana rintihan putra mereka Nabhaan yang saat itu berusia delapan tahun ketika menanyakan kenapa kehidupannya tidak bisa bahagia seperti dulu lagi. Sampai pada suatu saat, ketika ada seorang duda kaya raya anak seorang pejabat yang mengutarakan keinginan untuk menikahi Halimah. Dikisahkan inilah sebab mengapa Asyraf, abang Halimah, melakukan perbuatan keji merusak kehidupan rumah tangga Rizqaan dan Halimah. Namun entah apa yang dibicarakan oleh Halimah, duda tersebut dan ayahnya, ketika mereka berniat melamar Halimah, sehingga menjadikan mererka mengurungkan niat untuk melamarnya. Saat diceraikan oleh Rizqaan, halimah sedang mengandung anak kedua mereka, dan saat menjadi janda kondisi kesehatan Halimah menjadi memburuk dan ternya Halimah telah divonis menderita leukimia (kanker darah) dengan diagnosa bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Hari-hari berlalu sampai suatu ketika Ayah Halimah menyadari bahwa Halimah tidak akan bisa menikah dengan lelaki lain selain Rizqaan.


Continued.... Don't Missed....

Kamis, 07 April 2011

Kelanjutan Sinopsis "Sandiwara Langit" part 2

Bukan maksud hati membuat orang penasaran tapi biar laris aja dikunjungi banyak blogger... hehehe..... OK? silahkan dilanjutkan baca sinopsis dari buku "sandiwara langit".... eeiiittssss kalo mau yang lengkap silahkan beli bukunya... kayaknya cuma sekitar Rp. 25.000... murah kan????? buruan... (iklan tanpa dibayar)
 
Sosok kedua tokoh utama (dalam 2 bab)
Pada bab berikutnya, digambarkan latar belakang kehidupan pemuda shalih bernama Rizqaan ini dan juga pemudi shalihah bernama Halimah, yang nampaknya mempunyai beberapa kesamaan dan idealisme yang membuat mereka cocok satu sama lain. Rizqaan adalah seorang penuntut ilmu yang gigih yang langka dimana dikala kalangan pemuda yang lainnya larut dalam kehidupan dunia muda dengan beragam fenomenanya. Halimah adalah sosok muslimah yang teguh menjalani fitrahnya menjadi seorang muslimah kaffah dilingkungan keluarga yang jauh dari nilai agama.

Lembar-lembar kehidupan (dalam beberapa bab)
Dan bab-bab selanjutnya adalah torehan tinta dari perjalanan panjang dan melelahkan dari babak-babak kehidupan dua orang muda-mudi dalam mengayuh dayung sebuah biduk kecil bernama rumah tangga yang mereka bangun dengan dasar ketaqwaan kepada Rabb mereka. Bermacam ujian dan cobaan yang digambarkan, namun senantiasa dihadapi oleh mereka dengan suatu sikap yang sudah selayaknya dimiliki oleh seorang muslim. Juga sampai pada masa-masa cobaan yang mereka sudah bukan dalam bentuk kesulitan namun justru suatu nikmat yang bisa saja menjerumuskan mereka ke jurang kenistaan.
Rizqaan memulai perjuangannya memberi nafkah kepada istrinya dengan mencoba berdagang menjajakan roti dari suatu pabrik dari sedikit modal yang dimilikinya. Kedua insan ini memulai hidup dalam keprihatinan, namun mereka tetap sabar dan yakin akan ketentuan yang diberikan Allah kepada mereka. Dari mulai diceritakan saat-saat mereka hanya makan nasi putih dengan garam dan bawang goreng, dan bermacam cobaan lainnya. Berkat kegigihan dan kejujuran Rizqaan dalam berdagang, juga kesabaran Halimah istrinya untuk menerima keadaan mereka dan keuletannya me-manage keuangan rumah tangga. Pelan tapi pasti kehidupan keduanya berangsur membaik. Rizqaan menjadi penjual roti keliling yang sukses, berkat kejujurannya dan teguhnya memegang prinsip agamanya untuk tidak berdekatan dengan segala hal yang berbau haram maupun syubhat yang melingkupi bidang pekerjaannya. Rizqaan adalah tipe pekerja keras, namun ia bukanlah hamba dunia. Ia bekerja keras untuk mendapatkan dunia, namun ia berniat menundukkan dunia itu agar menjadi ladang akhirat baginya. Kehidupan ruhaninya yang dulu pun tak menjadi rusak dikarenakan kesibukannya mencari harta, bahkan Rizqaan yang hanya lulusan SMA ini telah menjelma menjadi sosok yang layak menyandang gelar Al-Ustadz.
Kebahagiaan keduanya lengkap tatkala mereka mendapatkan keturunan dari Allah Ta’ala. Bisnis Rizqaan semakin maju, hingga kini Rizqaan sudah bukan lagi penjaja roti keliling tapi sudah menjadi seorang pengusaha roti yang mempekerjakan beberapa karyawan. Omzetnya pun bukan lagi puluhan ribu seperti ketika awal-awal ia merintis usahanya, namun sudah menjadi puluhan juta. Kerikil-kerikil tajam sudah barang tentu menjadi selingan dalam kehidupannya.

Gemuruh prahara
Pada bulan keenam tahun kesepuluh pernikahan mereka adalh puncak kebahagiaan yang mereka rasakan, tidak ada lagi kesusahan dalam hidup mereka. Rizqaan sudah menjadi seorang pengusaha sukses. Rumah mereka bukanlah rumah petak kontrakan ala kadarnya, namun sudah menjadi rumah mewah dengan pabrik roti di belakangnya. Akhirnya memasuki bulan kesebelas kehidupan yang mereka jalani terasa begitu lambat ketika mereka berusaha untuk mempertahankan kehidupan mereka dan menunggu hingga saat tiba bagi Rizqaan untuk membuktikan janjinya kepada mertuanya. Hingga suatu malam tiba, dimana malam itu pada bulan kedua belas dan hari “H” tinggal hanya dua hari lagi terjadi musibah besar yang memporak-porandakan kehidupan yang selama ini mereka bagun dengan susah payah. Kebakaran melanda pabrik dan rumah mereka, hingga menjadikan ayah Rizqaan meninggal dunia. Belakangan di akhir cerita diceritakan, bahwa kebakaran tersebut merupakan ulah dari saudara jahat Halimah yang bernama Asyraf agar ayahnya memenangkan perjanjian dan Halimah menikah dengan lelaki lain yang lebih kaya.
Sory ya gan.... Continued again..